Ghazwul Fikr [Perang Pemikiran] dan Indonesia

Pengertian ghazwul fikr dapat dilihat dari segi bahasa dan segi istilah. Ghazwul secara bahasa artinya serangan, serbuan, invasi, sedangkan fikr adalah pemikiran. Sedangkan secara istilah ghazwul fikr artinya penyerangan dengan berbagai cara terhadp pemikiran umat Islam guna merubah apa yang ada di dalamnya sehingga tidak lagi bisa mengeluarkan darinya hal-hal yang benar karena telah tercampur aduk dengan hal-hal yang tidak islami.

Mengapa kita harus memahami ghazwul fikr ? karena ghazwul fikr itu sangat penting bagi kita kita, yaitu :

1. Mengenal musuh Islam.

2. Mengenal sarana-sarana yang dapat memukul Islam

3. Mengenal keadaan alam Islam

4. Menghindari keraguan dalam Islam.

5. Menjadikan dakwah kepada Allah dengan melihat ayat-ayat-Nya.

Adapun sasaran dari ghazwul fikr itu sendiri antara lain :

1. Menjauhkan umat Islam dari diennya.

2. Berusaha memasukkan orang yang kosong keislamannya kedalam agama kafir.

3. Memadamkan cahaya Allah.

Sedangkan metoda-metoda ghazwul fikr antara lain :

1. Membatasi supaya Islam tidak tersebar luas.

    1. Tasykik (Pendangkalan/peragu-raguan), yaitu gerakan yang berupaya menciptakan keragu-raguan dan pendangkalan kaum muslimin terhadap agamanya.
    2. Pencemaran/pelecehan, yaitu upaya orang kafir untuk menghilangkan kebanggan kaum muslimin terhadap Islam dan menggambarkan Islam secara buruk.
    3. Tadhlil (penyesatan), yaitu upaya orang kafir untuk menyesatkan umat Islam dengan cara halus sampai kasar.
    4. Taghrib (westernisasi), yaitu gerakan yang sasarannya untuk mengeliminasi Islam, mendorong kaum muslimin untuk menerima seluruh pemikiran dan perilaku barat.

2. Menyerang Islam dari dalam

    1. Penyebaran sekularisme, yaitu usaha memecahkan antara agama dengan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
    2. Penyebaran nasionalisme, yang dapat membunuh ruh ukhuwah islamiyah.
    3. Pengrusakan ahlak umat Islam terutama generasi mudanya.

Ghazwul fikr dapat menyebar melalui berbagai sarana, yang dikenal dengan 3F dan 5S, dimana 3F itu terdiri dari Food (makanan), Fun (Hiburan(, Fashion (Cara berpakaian). Sedangkan 5S terdiri dari Song (lagu), Sex, Sport (olahraga), Shopping (berbelanja/konsumerisme), dan science (ilmu pengetahuan).

Ghazwul fikr dapat menyebabkan berbagai hal antara lain :

  1. Umat Islam menyimpang dari Al Qur’an dan As Sunnah.
  2. umat Islam menjadi minder dan rendah diri
  3. umat Islam menjadi ikut-ikutan terhadap budaya orang kafir
  4. umat Islam menjadi tepecah belah.

Tekanan pihak asing pada semua kebijakan pemerintahan kita tidak hanya terjadi pada hari ini. Tekanan ini adalah bagian utuh dari rangkaian pola dan modus penjajahan (kolonialisme) asing terhadap negeri Islam yang belum selesai-selesai juga sampai sekarang.

Kalau kita berpikir bahwa tanggal 17 Agustus 1945 kita sudah sepenuhnya merdeka, maka silahkan kecewa. Karena kenyataannya, kemerdekaan itu tidak bulat seutuhnya. Kemerdekaan itu hanya pada tataran formal dan juridis saja. Bedak dan lipstiknya memang merdeka. Tapi isi perutnya masih saja terjajah. Ya, pada hakikatnya negeri kita tercinta ini masih dijajah.

Hanya modusnya memang beda. Belanda dan kekuatan asing itu memang hengkang secara fisik dari negeri ini. Tidak ada tentara asing berkeliaran di negeri kita. Secara formal kita punya bendera, lagu kebangsaan, batas wilayah, bahkan punya pemerintahan.

Tapi,

Apalah artinya semua itu kalau mentalitas para penguasanya hanya boneka dan budak yang kerjanya setiap hari membungkukkan badannya kepada kekuatan asing itu?

Apalah artinya lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan kalau para pejabatnya sibuk menjual semua asset bangsa?

Kelemahan kita pada hakikatnya pada mentalitas sebagian penguasa lokal, yang entah bagaimana caranya, seolah bekerja demi kepentingan asing. Entah apa motivasinya, apakah takut, ataukah karena memang mentalnya mental inlander. Rasanya, alasan kedua ini yang lebih dominan.

Mentalitas Inlander

Kalau kita kembali kepada sejarah bangsa ini, sejak awal mula penjajahan ketika dahulu VOC masuk dan merampas kekayaan alam lewat permainan dagang yang curang, kita sudah menyaksikan banyak pihak yang bermental inlander ini.

VOC tidak akan ’sukses’ menjajah negeri ini kalau tidak dibantu oleh para pamong dan penguasa lokal yang ikut memberi jalan masuk bagi para penjarah, demi sekedar mendapat keuntungan yang sangat kecil.

Belanda tidak akan menjajah kita sampai 3,5 abad kalau tidak karena adanya kacung-kacung lokal yang mau saja diperdaya, diperalat dan dijadikan kaki tangan penjajah. Mereka, para kacung itu, memang dibutuhkan, bahkan kalau perlu diternakkan, agar nantinya siap bermitra dengan para penjarah.

Setidaknya menjadi jaminan atas langgengnya upaya kecurangan para penjajah. Mental-mental semacam inilah yang hari ini terjadi lagi sebagai pengulangan sejarah.

Memang benar dahulu kita punya pemimpin besar sekelas Bung Karno yang masyhur dengan jargonnya, “Go to hell with your aid.” Tapi pada akhirnya dia malah terjungkal oleh konspirasi kekuatan asing.

Mafia BerkeleySalah satu sumber masalah buat negeri kita ini adalah adanya mafia di level para penentu kebijakan poitik dan ekonomi. Di antaranya yang disebut dengan mafia Berkeley.

Mafia ini memang diciptakan oleh para penjarah di Amerika berupa pusat pendidikan dan perguruan tinggi. Antara lain Universitas Berkeley, Cornell, MIT (Massachusette Institute of Technology), Harvard dan lainnya. Berbagai perguruan tinggi yang menjadi favorite ini ternyata merupakan sarang dan dapur CIA untuk mencekokkan ilmu-ilmu liberal. Termasuk menjadi pusat untuk meng-Amerika-kan para mahasiswa yang datang ke negeri itu (termasuk Indonesia) dan menggemblengnya menjadi agen dan kaki tangan Amerika yang setia.

Bahkan sebenarnya menurut David Ransom, bebagai perguruan tinggi itu pada hakikatnya hanya kedok saja. Isinya tidak lain adalah wadah bagi CIA untuk melakukan cuci otak. Luar biasa bukan?

Para mahasiswa jebolan Berkeley dan yang lainnya, setelah mendapat gelar Phd dan sejenisnya, kemudian pulang negeri kita dan berkerumun di sekitar pusat kekuasaan dan menguasai berbagai Fakultas Ekonomi. Tujuannya, selain menjadi penyambung lidah Amerika, memelintir cara berpikir bangsa, juga mengambil alih kebijasanaan negara dalam masalah ekonomi.

Mafia ini kemudian duduk menjadi pejabat yang paling menentukan arah langkah kebijakan ekonomi di negeri ini. Semua jabatan menteri di bidang perekonomian dikuasai, siapa pun yang jadi presidennya. Jabatan Menteri Keuangan, Menteri Perdagangan, Bapenas, Penanaman Modal Asing, Menteri Perindustrian, Dirjen Pemasaran dan Perdagangan, dan jabatan penting lainnya adalah tempat yang paling strategis untuk menjalankan agenda kolonialisme Amerika modern di negeri kita.

Untuk itu, semua pejabatnya harus orang-orang yang sangat mengabdi buat kepentingan Amerika, setidaknya harus sudah dicuci otaknya di berbagai perguruan tinggi di negeri Paman Sam itu.

Sebagian pengamat mengatakan bahwa Istilah PELITA dan REPELITA yang akrab di telinga kita sejak masa rezim Soeharto, adalah hasil godokan team ini.

Keberadaan mafia Berkeley ini merupakan bentuk implementasi dari ungkapan Ricahrd Nixon, Presiden Amerika di tahun 1967 tentang Indonesia yang sedang dinikmati hasil jarahannya. Nixon mengatakan bahwa Indonesia adalah “The Greates Prize”, Indonesia adalah anugerah terbesar buat Amerika.

Anugerah?

Ya, anugerah yang terbesar untuk dijarah, karena tanpa perlawanan apapun, tanpa repot mengirim pasukan, tanpa ba dan bu, para pejabatnya siap mempersembahkan semua kekayaan alam kepada kepentingan komprador negeri Paman Sam itu. Termasuk pada akhirnya mengobral murah 44 BUMN yang dengan susah payah dibangun oleh putera puteri terbaik bangsa ini.

Prestasi mafia ini memang luas biasa. Salah satu jerih payah mereka antara lain adalah kontrak-kontrak kerja yang sangat merugikan bangsa. Nyaris tidak ada kekayaan alam negeri ini yang disisakan lagi.

Entah bagaimana ceritanya, di Papua ada emas sebesar gunung yang kemudian tiba-tiba menjadi milik Amerika 100%. Indonesia tidak dapat apa-apa kecuali remah-remah roti buat para pejabatnya yang konon semakin kaya saja.

International Nickel tiba-tiba berhasil mendapatkan hak eksklusif di Sulawesi. Harta terpendam bangsa Indonesia itu tiba-tiba jadi milik asing, kita tidak disisakan sedikit pun.

Alcoa juga mendapat jatah yang lain, yaitu hak untuk menjarah hasil alam Indonesia berupa bauksit.

Weyerhaeuser, International Paper, Biose Cascade dan perusahaan kayu dari Jepang, Korea, dan Pilipina menebangi kayu-kayu di hutang Kalimantan, Sumatera, dan Irian.

Namun hadiah terbesar adalah minyak bumi. Pada tahun 1969, 23 perusahaan minyak telah mengajukan proposal untuk mendapatkan hak melakukan eksplorasi, eksploitasi dan menjual minyak di bawah laut perairan Indonesia. Dari 23 perusahaan itu, 19 di antaranya perusahaan Amerika.

Mental Terjajah

Semua kegagalan bangsa di atas berikut kebangkrutannya itu, tidak akan terjadi kalau mental bangsa ini, termasuk penguasanya, tidak terjajah. Tetapi sayangnya, itulah realita mental kita dan juga mental para penguasa kita. Tidak berani bilang tidak, ketika dipaksa-paksa bilang iya.

Sebagai perbandingan, tidak ada salahnya kalau kita melirik tetangga kanan kiri. Beberapa negara miskin lainnya sebenarnya bernasib tidak jauh beda dengan kita. Bedanya, mereka tidak terlalu lama tidur, ada waktunya mereka bangkit dan menegakkan kepala, lalu bilang kepada para penjarah internasional itu sebuah kata tegas: TIDAK!!!.

Malaysia

Malaysia kini telah bangkit perekonomiannya, setelah sebelumnya mau di-Indonesia-kan. Pak Mahathir, lepas dari urusan politik dalam negerina, boleh dibilang sangat banyak jasanya dan patut dicontoh untuk urusan menolak penjarahan asing.

Malaysia patut ditiru ketika mereka tidak mau tunduk kepada dukun palsu IMF, World Bank atau WTO, bahkan termasuk Soros, si lintah darat itu. Dan hasilnya luar biasa.

Angka kemiskinan menurun drastis dari 25% hingga kini tinggal 5%. Penghasilan perkapita meninggak tiga kali lipat. Kini sekitar 10 ribu dolar. Industri dalam negeri mereka maju. Bahkan sudah punya produk mobil nasioal yang 100% murni, bukan seperti kita yang konon namanya mobil nasional, ternyata turun dari kapal sudah bisa hidup mesinnya.

BoliviaSetelah menasionalisasi semua aset negara, pendapatan Bolivia di tahun 2006 melonjak 6 kali dari sebelumnya di tahun 2002.

Akhirnya para penguasa negeri di Amerika Latin itu bangun dari tidurnya. Mereka menyadari betapa selama ini mereka dikibuli habis-habisan oleh penjarah dari Amerika dan negeri asing lainnya.

Akhinya dengan semua keberanian dan kelelakian, semua perusahaan asing yang bercokol di negeri itu, seperti Exxon Mobile, Total milik Perancis, Repsol milik Spanyol, termasuk British Petrolium dan lainnya hanya diberi pilihan, ikut aturan baru mereka atau silahkan pulang kampung.

Maka perusahaan asing itu tidak bisa bilang apa-apa. Mereka tahu siapa yang jadi bos: Whos The Boss. Ternyata bukan mereka tapi penguasa negeri itu yang jadi bos. Mereka harus taat, patuh dan tunduk kepada kebijakan jantan penguasa negeri itu, kalau masih mau hidup. Luar biasa bukan?

Ecuador

Yang juga perlu ditiru adalah tindakan berani Presiden Ecuador, Rafael Careera, yang tidak memperpanjang kontrak pangkalan militer Amerika di Manta tahun 2009.

Perhatikan syarat yang diajukan pak Careera itu. Kalau Amerika masih mau berpangkalan militer di Ecuador, silahkan saja. Asalkan Amerika juga harus rela wilayah negerinya juga dijadikan pangkalan militer Ecuador di Miami, wilayah Amerika Serikat.

Jadi seimbang, sederajat, setara dan resiprokal. Tidak berat sebelah sebagaimana kebijakan para pejabat kita yang membolehkan militer Singapura masuk ke wilayah kedaulatan kita.

Asal tahu saja, negara kita telah menandatangani perjanjian sangat tidak seimbang dengan Singapura, sehingga tentara negeri agen Zionis itu bebas main perang-perangan dengan peluru tajam di Indonesia, seperti Wilayah Alfa I, Alfa II, Bravo, dan Baturaja. Bahkan dibolehkan mengundang pihak ketiga dari negara lain. Gila kan?

Apa Kabar Presiden Kita?Jadi kalau kita mau pilih Presiden lagi nanti, itu pun kalau masih mau, satu saja syaratnya. Apakah si calon presiden itu berani bilang TIDAK kepada Amerika dan penjajah asing? Beranikah dia mengusir pergi semua perusahaan asing yang kerja menjarah itu? Beranikah dia bubarkan mafia Berkeley di pemerintahannya?

Apa pun janji-janji gombalnya, selama masih membungkuk-bungkuk dan mencium jempol kaki Amerika yang bau itu, percuma saja kita punya pemerintahan baru. Kita hanya akan kejeblos di lubang yang sama. Apesnya, bukan untuk yang kedua kalinya, tapi untuk yang kesekian kalinya. Kebodohan yang selalu saja berulang.

Ikhwatifillah Rahimani Rahimakumullah….mari kita sambut tantangan perang ini…JIHAD FIKRIYAH adalah pilhan kitat saat ini…..ALLAH GHOYATUNA, AR RASUL QUDWATUNA, AL QUR’AN DUSTURUNA, AL JIHAD SABILUNA, AL MAUTU FI SABILILLAH ASMA’ AMAANINAH…..ALLAHU AKBAR!!!

Nahnu Du’a Qobla Kulli Syai’in

dakwatuna.com – Nahnu Du’aatun Qabla Kulli Syai’in. “Kami adalah dai sebelum jadi apapun”.

Suatu gambaran pribadi yang unik dengan penataan resiko terencana untuk meraih masa depan bersama Allah dan Rasul-Nya. Inilah kafilah panjang, pembawa risalah kebenaran yang tak putus sampai ke suatu terminal akhir kebahagiaan surga penuh ridha Allah swt.

Setiap muslim adalah dai. Kalau bukan dai kepada Allah, berarti ia adalah dai kepada selain Allah, tidak ada pilihan ketiganya. sebab dalam hidup ini, kalau bukan Islam berarti hawa nafsu. Dan hidup di dunia adalah jenak-jenak dari bendul waktu yang tersedia untuk memilih secara merdeka, kemudian untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul insan kelak. Bagi muslim, dakwah merupakan darah bagi tubuhnya, ia tidak bisa hidup tanpanya. Aduhai, betapa agungnya agama Islam jika diemban oleh rijal (orang mulia).

Dakwah merupakan aktivitas yang begitu dekat dengan aktivitas kaum muslimin. Begitu dekatnya sehingga hampir seluruh lapisan terlibat di dalamnya.Sayang keterlibatan tersebut tidak dibekali ”Fiqh Dakwah” sehingga kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada kebaikan yang diperbuat.

Disini menjadi jelas akan pentingnya kebutuhan terhadap fiqh dakwah, sebagaimana digambarkan para ulama, bahwa ”kebutuhan manusia akan ilmu lebih sangat daripada kebutuhan terhadap makan dan minum”. Sehinga penting bagi kaum muslimin yang telah dan hendak terjun dalam kancah dakwah untuk membekali diri dengan pemahaman yang utuh terhadap Islam dan dakwah Islam. Karena orang yang piawai dalam menyampaikan namun tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap Islam ”sama bahayanya” dengan orang yang memiliki pemahaman yang benar akan tetapi bodoh di dalam menyampaikan, mengapa?

Pertama; ia akan menyesatkan kaum muslimin dengan kepiawaiannya (logika kosongnya). Kedua; Hal itu akan menjadi ”dalil” bagi orang-orang kafir dalam kekafirannya (keungulan bungkusannya).

Adalah fiqh dakwah merupakan sarana untuk menjembatani lahirnya pemahaman yang shahih terhadap Islam didukung kemampuan yang baik di dalam menyampaikan. Sehingga dengan aktivitas dakwah ini ummat dapat menyaksikan ”Islam” dalam diri, keluarga dan aktivitas para dai yang melakukan perbaikan ummat secara integral, mengeluarkan manusia dari pekat jahiliyah menuju cahaya Islam.

Bagi mereka yang yang berjalan diatas rel kafilah dakwah menuju cahaya dan kebahagiaan dunia dan akherat, dapat melihat prinsip-prinsip dakwah dan kaidah- kaidahnya, agar menjadi hujjah atau pegangan bagi manusia dan menjadi alasan di hadapan Allah, Ustadz Jum’ah Amin Abdul Aziz memaparkan tentang hal ini, yaitu; ”Fiqh Da’wah: Prinsip dan kaidah dasar Dakwah”, yang diambil dari usul fiqh sebagai bekal para dai tersebut adalah sebagai berikut:

1. Qudwah (teladan) sebelum dakwah
2. Menjalin keakraban sebelum pengajaran
3. Mengenalkan Islam sebelum memberi tugas
4. Bertahap dalam pembebanan tugas
5. Mempermudah, bukan mempersulit
6. Menyampaikan yang ushul (dasar) sebelum yang furu’ (cabang)
7. Memberi kabar gembira sebelum ancaman
8. Memahamami, bukan mendikte
9. Mendidik bukan menelanjangi
10. Menjadi murid seorang imam, bukan muridnya buku.

Harapan, kiranya Allah swt senantiasa mencurahkan taufiq dan petunjuk-Nya kepada para dai yang ikhlas menyeru manusia ke jalan Allah, memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat serta tempat kerja, sehingga Allah terlibat dalam urusan dan kebijakan-kebijakan yang akan ditetapkan untuk orang banyak, demi tegaknya tatanan Islam yang indah dalam kehidupan dengan bimbingan Alah dan sesuai panduan manhaj (aturan) dakwah Rasulullah saw. Wallahu ‘alam

Pemuda Berpendidikan Profetik Pelopor Perbaikan [harkitnas edition]

Ibnu Syamsi*

Sejarah Mungkin Terulang

Seabad sudah bangsa mengingat sebuah catatan sejarah yang digoreskan para pemuda-pemuda terbaik bangsa dimana pada tanggal 20 mei 1908 berdirilah sebuah organisasi yang sadar akan kesatuan bangsa dan untuk menentang kekuasaan penjajahan belanda yang berabad-abad lamanya berlangsung di tanah air Indonesia. Organisasi tersebut ialah Bedi Utomo yang sampai saat ini kita kenang sebagai hari kebangkitan nasional. Boedi Oetomo pada saat itu, merupakan perkumpulan kaum muda yang cerdas terdidik dan peduli terhadap nasib bangsa, yang antara lain diprakarsai oleh ; Dr. Soetomo, Dr. Wahidin Soedirohoesodo dan Dr. Goenawan dan Suryadi Suryadiningrat (Ki Hadjar Dewantara).

Sebelumnya pada tanggal 2 mei kemarin kita juga mengenang sebuah sejarah bangsa yang juga kalah pentingnya dengan hari kebangkitan nasioanal. Membahas tentang pendidikan nasional tentu kita tidak dapat melupakan bapak Ki Hadjar Dewantara yang hari lahirnya itulah (2 Mei 1889) yang ditetapkan sebagai peringatan hari pendidikan nasional dan ajarannya yang terkenal ialah tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan).

Manipulasi sejarah

Sebelum kita membahas terkait eseni dari kedua sejarah di atas ada baiknya kita memahami sejarah yang sebenarnya dan lebih dahulu daripada kedua sejarah di atas yang sampai saat ini terkesan di diskriminasi dalam hal kebenaran sejarah oleh pemerintah dan intervensi asing sehingga terjadi diskriminasi citra islam yang dipelajari di buku-buku sekolah. Yaitu pengaburan Kebangkitan Nasional yang sesungguhnya hasil manipulasi, sehingga seakan-akan berawal dari berdirinya organisasi Boedi Oetomo. Padahal jika dibandingkan dengan Syarikat Dagang Islam (SDI) yang terlebih dahulu daripada Boedi Utomo yaitu pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh H Samanhudi sebagai wujud kepedulian akan nasib bangsa karena pelimpahan monopoli perdagangan pada golongan cina oleh pemerintah belanda. Organisasi ini menjelma menjadi Syarikat Islam pada tanggal 10 September 1912 yang terbuka untuk seluruh rakyat Indonesia dari segala lapisan yang mayoritas beragama Islam. Faktanya, pendiri Syarikat Islam H.O.S. Cokroaminoto dan murid-muridnya adalah kaum pergerakan yang menjadi pejuang politik dan militer.

Begitu pula dengan sejarah-sejarah masuknya islam di Indonesia yang penulisanya masih didominasi ilmuan-ilmuan barat yang tak terlepas manipulasi. Padahal kedatangan Islam di Indonesia membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian Indonesia. Makna nasionalisme-pun menjadi sempit, nasionalisme saat ini tergambar hanya semangat cinta akan tanah air belaka tanpa ada sentuhan-sentuhan robbaniyah. Padahal cinta akan tanah air yang sering kita sebut nasionalisme merupakan salah satu manifestasi akidah, cinta akan syariat Allah SWT yang diwujudkan dalam semangat bernegara. Hakikatnya, dengan semangat, syariat dan nilai-nilai Islamlah Negara Indonesia ini menemukan jati dirinya.

Akhirnya di hari-hari kehidupan bangsa yang konon telah merdeka selama sejak 1945 ini, umat Islam selalu terpinggirkan. Bangsa ini memilih pendidikan sekuler dan mengikuti strategi zionis agar memisahkan agama dengan politik. Mayoritas umat Islam terbawa arus pemikiran yang menolak nilai-nilai agama menjadi sumber hukum.

Pemuda, Pendidikan dan Perbaikan

Terlepas dari pada semua itu, dari awal ulasan di atas ada bebrapa kata yang kita garis bawahi yang pembahasanya tak lekang di makan waktu, yaitu pemuda dan pendidikan kemudian perbaikan. Tiga kata ini apabila kita kolaborasikan akan menjadi rangkaian kalimat sebagai berikut, “pemuda yang mendapat pendidikan akan berpikir dan berjuang untuk perbaikan“.

Pemuda merupakan aset terbesar Negara ini untuk melakukan perbaikan di bidang apapun. Oleh karena itu sudah semestinya Negara ini perhatian akan proses pengkaderan putra-putra bangsa tentunya dengan pendidikan. Namun, sebagaimana pemaparan sebelumnya, dengan pendidikan yang sesuai dengan tuntunan islamlah yang akan memenuhi cita-cita tersebut karena nilai-nilai robbaniyah (berketuhanan) serta cakupanya yang syamilah (integral) tidak juz’iyah (parsial) dan tidak ada satupun agama atau kepercayaan atau bahkan konsep modern yang dapat menyainginya karena kekuatan nilai robbaniyah-nya.

Jika kita menapak tilas perjuangan Rasulullah SAW, kita akan mendapati bukti catatan-catatan sejarah diamana perjuangan Rasul bersama pemuda yang terdidik jiwa(ruhiyah), akal(aqliyah) dan jasadnya(jasadiyah) sehingga menciptakan perbaikan-perbaikan yang hakiki. Pemuda-pemuda yang mendapat asupan khazanah keilmuan yang robbani dan syumul dari Nabi Muhammad SAW yang bermula di Madrasah Nubuwah, Darrul Arqom(rumah Arqom Bin Abi Arqom Al-Makhzumy).

Pendidikan Profetik Solusinya

Pendidikan Profetik dapat dipahami sebagai seperangkat teori yang tidak hanya mendeskripsikan dan mentransformasikan gejala sosial, dan tidak pula hanya mengubah suatu hal demi perubahan, namun lebih dari itu, diharapkan dapat mengarahkan perubahan atas dasar cita-cita etik dan profetik. Profetik disini memilki arti kenabian berasal dari kata prophetical(inggris) yang mempunyai makna Kenabian atau sifat yang ada dalam diri seorang nabi. Yaitu sifat nabi yang mempunyai ciri sebagai manusia yang ideal tidak hanya secara spiritual-individual, tetapi juga menjadi pelopor perubahan, membimbing masyarakat ke arah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan penindasan. Dalam sejarah, Nabi Ibrahim melawan Raja Namrud, Nabi Musa melawan Fir’aun, Nabi Muhammad yang membimbing kaum miskin dan budak, beliau melawan setiap penindasan dan ketidakadilan. Dan mempunyai tujuan untuk menuju kearah pembebasan. Dan tepat menurut Ali Syari’ati “para nabi tidak hanya mengajarkan dzikir dan do’a tetapi mereka juga datang dengan suatu ideologi pembebasan”.

Allah SWT berfirman dalam QS. 3:110 yang artinya:

“Engkau adalah ummat terbaik yang diturunkan/dilahirkan di tengah-tengah manusia untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah”

Terdapat tiga pilar utama dalam pendidikan profetik yaitu; amar ma’ruf (humanisasi) mengandung pengertian memanusiakan manusia(kembali ke fitroh). nahi munkar (liberasi) mengandung pengertian pembebasan. dan tu’minuna bilah (transendensi), dimensi keimanan manusia.

Selain itu dalam QS. 3:110 tersebut juga terdapat empat konsep; Pertama, konsep tentang ummat terbaik (The Chosen People), ummat Islam sebagai ummat terbaik dengan syarat mengerjakan tiga hal sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut. Ummat Islam tidak secara otomatis menjadi The Chosen People, karena ummat Islam dalam konsep The Chosen People ada sebuah tantangan untuk bekerja lebih keras dan ber-fastabiqul khairat.

Kedua, aktivisme atau praksisme gerakan sejarah. Bekerja keras dan ber-fastabiqul khairat ditengah-tengah ummat manusia (ukhrijat Linnas) berarti bahwa yang ideal bagi Islam adalah keterlibatan ummat dalam percaturan sejarah. Pengasingan diri secara ekstrim dan kerahiban tidak dibenarkan dalam Islam. Para intelektual yang hanya bekerja untuk ilmu atau kecerdasan an sich tanpa menyapa dan bergelut dengan realitas sosial juga tidak dibenarkan.

Ketiga, pentingnya kesadaran. Nilai-nilai profetik harus selalu menjadi landasan rasionalitas nilai bagi setiap praksisme gerakan dan membangun kesadaran ummat, terutama ummat Islam.

Keempat, etika profetik, ayat tersebut mengandung etika yang berlaku umum atau untuk siapa saja baik itu individu (mahasiswa, intelektual, aktivis dan sebagainya) maupun organisasi (gerakan mahasiswa, universitas, ormas, dan orsospol), maupun kolektifitas (jama’ah, ummat, kelompok/paguyuban). Point yang terakhir ini merupakan konsekuensi logis dari tiga kesadaran yang telah dibangun sebelumnya.

Dari pemaparan terakhir inilah kita menyadari bahwa pergolakan sejarah negeri ini tak terlepas dari peran-peran pemuda yang mendapatkan pendidikan yang denganya bersinarlah cahaya nurani dengan ilmu sehingga jeli akan kefitrahan manusia yaitu merdeka dan bebas dari penjajahan yang yang diperjuangkan atas dasar nilai-nilai robbaniyah dan syumuliyah.

Saat ini, negeri ini sedang sakit tak kalah sakitnya seperti saat masih terjajah oleh belanda dan jepang dahulu. Bahkan lebih parah karena ideologi merusak dan menjajah ditanamkan oleh sebuah konspirasi yang besar ke dalam tubuh pemuda-pemuda negeri tercinta ini sendiri(ghazwul fikr). Pada akhirnya izzah dan quwah negeri ini yang terbangun atas nilai-nilai robbani memudar bahkan hilang sehingga lumpuh dan dengan mudah dapat di hancurkan.

Pemuda Islam

Wahai Pemuda Islam Bersatulah, Dunia Islam Menanti Langkah Sucimu

Luruskan Niat Di Hati, Rapat Barisan Sejati, Jadikan Diri Pemuda Robbani

Wahai Pemuda Islam Bersatulah, Dunia Islam Menanti Langkah Sucimu

Luruskan Niat Di Hati, Rapat Barisan Sejati, Jadikan Diri Pemuda Robbani

Allah Ghoyatuna, Muhammad Qudwatuna, Qur’an Dusturuna, Jihad Sabiluna

Allah Tujuanku, Muhammad Tauladanku, Qur’an Petunjuku dan Jihad Jalanku

Syahid Di Jalan Allah Cita-cita Tertinggi

Syahid Di Jalan Allah Cita-cita Tertinggi

*) Mahasiswa UIN MMI Malang Fakultas Sains Dan Tekhnologi ’07, Sekretaris Kaderisasi Lembaga Dakwah Kampus (LDK) At Tarbiyah UIN MMI Malang 08-09, Komisi-A(isu keumatan)Puskomda FSLDK(Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus) Malang Raya, KaDept. Kaderisasi KAMMI UIN MMI Malang 09-10.

Berhenti Berarti Kalah

Oleh: Chandra Kurniawan

“Kadang ke Kufah, kadang ke Bashrah, kadang ke Hijaz, dan kadang ke Yaman. Sampai kapan?”

“Bersama mihbarah (wadah tinta) sampai ke maqbarah (kuburan),” jawab Imam Ahmad bin Hanbal saat ditanya tentang kegigihannya dalam menuntut ilmu.

***

Setelah membaca buku Riwayat Sembilan Imam Fikih, aku berkata dalam hati, bahwa aku adalah orang besar. Dan kebesaranku dimulai dari apa yang telah kutulis selama ini. Tulisan-tulisanku merupakan bentuk lain dari perasaan, kemarahan dan kebencianku akan suatu hal.

Aku berpikir bahwa aku adalah orang besar yang kelak akan memikul amanah dakwah dan ummah. Tapi tiba-tiba hati kecilku bertanya, “Perangkat-perangkat apa saja yang telah engkau miliki dan jalan apa saja yang telah engkau tempuh untuk mendapatkannya?” Aku menjawab, “Aku belum punya apa-apa selain keinginanku yang menggebu-gebu.” Hati kecilku kembali berkata, “Aku tahu itu, tetapi itu belumlah cukup. Keinginan itu harus diiringi dengan pelaksanaan yang baik dan konsisten. Engkau harus menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan tidak setengah-setengah, atau engkau tidak akan pernah mencapainya. Selama ini aku perhatikan engkau tidak menjalankannya dengan teguh. Engkau lemah oleh bujuk rayu setan dan kemudian menjerumuskanmu pada pelbagai bentuk kemaksiatan. Walaupun pada akhirnya engkau mengakui kesalahanmu itu. Engkau harus kuat. Engkau harus sabar. Bergaullah dengan orang-orang yang shalih karena mereka akan menjaga dan membimbingmu. Takutlah akan azab-Nya yang pedih dikala engkau seorang diri. Tutuplah rapat-rapat mulutmu dari perkataan dusta. Pergunakanlah harta bendamu untuk tujuan yang mulia. Jauhilah sumber-sumber fitnah. Banyaklah menuntut ilmu dan merenungkannya. Tepati janji yang pernah engkau ucapkan. Dan rajin-rajinlah mendekatkan diri kepada Allah.”

Nasihat yang baik. Hati kecilku berkata benar karena ia tak pernah berdusta. Menjadi orang besar bukan perkara mudah, pikirku. Menjadi orang besar berarti mempertaruhkan seluruh kehidupan untuk menggapai apa yang dicita-citakan. Ini tentu saja akan menyedot dan menguras seluruh energi, pikiran, tenaga, dan waktu. Aku pikir, betapa hebat dan mulianya orang-orang besar itu karena mereka telah menang dan kembali dengan jiwa yang tenang. Benarlah apa yang dikatakan seorang ulama, janganlah engkau hanya melihat kesuksesan seseorang, tetapi lihatlah proses mereka meraih kesuksesan itu.

Dari sembilan imam fikih yang kubaca sejarahnya, tak satupun yang tidak pernah mendapat ujian dan cobaan; dipenjara, diasingkan dan disiksa. Bahkan Imam Zaid bin Ali dibunuh dan mayatnya disalib di tempat umum. Untuk menjadi orang besar, mereka harus mempertaruhkan apa yang mereka punya termasuk diri mereka sendiri. Mereka tidak terikat pada suatu apa pun kecuali hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika ada perkataan mereka tidak sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya, mereka menyuruh kita agar meninggalkannya. Mereka tidak merasa malu mengatakan “saya tidak tahu”, sekalipun ilmu mereka luas dan kepakaran mereka tak tertandingi. Sejak kecil mereka sudah gigih menuntut ilmu dan merenungkan kejadian-kejadian yang ada disekelilingnya sehingga hati menjadi peka terhadap problematika umat. Tidak heran jika mereka mampu menghafal al-Quran sejak usia 10 tahun, 9 tahun, atau bahkan kurang dari itu. Bandingkan dengan keadaan kita saat ini, di usia yang kepala dua, tiga, atau bahkan lebih dari itu, kita belum mampu menghafalnya dengan sempurna. Pada usia dini pula, mereka telah mampu menghafal hadits dan buku-buku karangan guru mereka. Semangat dan etos kerja yang telah tertanam sejak kecil, ditambah dengan lingkungan yang kondusif (lingkungan para alimin dan shalihin), setahap demi setahap cita-cita mereka raih.

Namun, bagi kita, perjuangan belum terlambat untuk terus kita kumandangkan. Dengan segala apa yang ada pada diri kita dan dengan semangat yang kita kobarkan dan dengan amal yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, demi Allah, semua itu tidaklah sia-sia. Kita harus bangkit dari keterpurukan dan kemalasan ini. Kita harus raih kemuliaan sebelum ajal datang menjemput. Al-Khawarizmi, seorang ahli matematika tersohor dan penemu ilmu aljabar, ternyata baru belajar matematika ketika berusia 24 tahun. Sebelumnya dia adalah pemuda pengangguran yang senang bermain musik. Tapi dia sadar, bahwa apa yang dilakukannya itu adalah kesia-siaan dan kelalaian. Kemudian dia beralih dan mengerjakan pekerjaan yang jauh lebih bermanfaat. Usia bukanlah penghalang untuk meraih apa yang dicita-citakannya. Kelak beliau dikenal sebagai sosok yang menguasai banyak ilmu pengetahuan mulai dari fisika, kimia, astronomi, filsafat, matematika, dan tentu saja pandai memainkan alat musik.

Imam Bukhari biasa bangun dari tidur, lalu menyalahkan lampu dan menuliskan faedah suatu hadits yang terlintas dalam pikirannya, kemudian tidur lagi dan kembali bangun hingga beliau dalam sebagian malam melakukan perbuatan ini sampai 20 kali.

Imam Abul Wafa bin Aqil al-Hanbali berkata, “Tak halal bagiku menyia-nyiakan sejam pun dari umurku. Sampai-sampai bila lidahku sudah tak mampu untuk bertutur kata, dan penglihatanku tak bisa membaca, aku tetap menjalankan daya pikirku meskipun aku berbaring istirahat. Sehingga aku tak akan bangkit kecuali telah terlintas dalam pikiranku apa yang akan kutulis. Pada umur 80 tahun aku amat gemar kepada ilmu, yang tak kualami ketika aku masih berumur 20 tahunan.”

Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata, “Saya kenal seseorang yang sedang sakit demam dan sakit kepala, sedang kitab yang dibacanya tetap berada di atas kepalanya. Apabila sedang siuman maka ia membacanya dan apabila sedang sakit yang sangat, maka ditaruhnya kitab itu di atas kepalanya. Di suatu hari tabib memeriksa sakitnya itu, sedang ia dalam keadaan sedemikian itu, lalu tabib itu berkata, ‘Sungguh tuan jangan melakukan hal ini (membaca), karena akan membahayakan ketahanan tubuh tuan dan dapat berakibat lebih fatal lagi’.”

Syaikh Abdul Adzim bercerita tentang Ishak bin Ibrahim al-Muradi, sebagaimana penuturannya, “Saya belum pernah melihat dan mendengar orang yang lebih banyak kesibukannya sepanjang siang hingga larut malam. Saya bertetangga dengan beliau, rumah beliau dibangun setelah 12 tahun rumahku berdiri. Setiap kali saya terjaga di keheningan malam, selalu terbias sinar lentera dari dalam rumahnya, dan beliau sedang sibuk dengan pencarian ilmu; bahkan sewaktu makan beliau selingi pula dengan membaca kitab-kitab.”

Menjelang wafat Imam ath-Thabari, Ja’far bin Muhammad memanjatkan doa untuknya. Ath-Thabari kemudian meminta tempat tinta dan selembar kertas dan menulis doa itu. Dia ditanya, “Apa arti semua ini?” Maka dia menjawab, “Sepantasnyalah bagi seorang untuk memungut ilmu hingga menjelang kematiannya.” Beberapa saat kemudian beliau wafat.

Imam al-Izz Izzuddin Abdussalam meninggal dunia pada usia 83 tahun pada saat beliau sedang berusaha menafsirkan ayat al-Quran, “Allahu nuurus samawati wal ardh” di hadapan murid-muridnya. Achdiat K. Miharja penulis novel Atheis, mampu menulis novel setebal 219 berjudul Manifesto Khalifatullah pada saat berusia 94 tahun.

Merekalah orang-orang yang tidak terhalang oleh waktu dan peristiwa. Bagi mereka, menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada orang banyak adalah keutamaan yang besar dan harus mereka jalani hingga maut datang menjemput. Tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu, berkarya dan meraih prestasi. Berhenti berarti kalah! Karena orang yang berhenti sama saja dengan orang yang mati.

seruling_daud@yahoo.com http://penulis-muda.blogdrive.com

Halaqoh(Mentoring) Produktif

Halaqoh usroh(mentoring) merupakan hal yang paling urgen bagi dinamisasi dakwah, guna pencapaian muwashofat kader, membentuk pendidik-pendidik baru yang dapat mengembangkan dakwah, serta menigkatkan kesolidan jamaah itu sendiri. Oleh karena itu peran seroang murobbi tatau naqib amatlah penting dalam pencapaian hal ini.

Dalam hal ini, alangkah baik murobbi(mentor) tersebut merupakan orang yang benar-benar telah teruji dan layak untuk menjadi seorang murobbi, terutama dari segi akhlaknya. Seorang murobbi tidaklah harus berilmu yang banyak dan komplit walaupun disamping itu hal itu juga sangat diperlukan. Namun yang harus ada pada diri seorang murobbi adalah keteladanan yang dengan hal itu para mutarobbinya dapat mencontoh.

Diharapkan pula murobbi mengerti benar apa tujuan dari halaqoh usroh tersebut, sehingga segala apa yang dilakukan di dalam dinamsasi halaqoh memiliki orientasi yang jelas baik itu agenda ruhiyah, fikriyah dan jasadiyah. Tetapi hendaknya murobbi tersebut tidak menjadi monoton karena orientasi tersebut menuntut hal yang benar-benar prinsip, tetapi hendaknya murobbi tersebut kreatif sehingga dinamisasi halaqoh dapat terus terjaga dan niscaya produktifitasnyapun akan muncul.

Selayaknya murobbi jeli juga melihat keadaan para mutarobbinya(mentee), mengenai sifat mereka, kecenderungan mereka, hobi dan hal-hal yang tidak terlepaskan dari diri seorang manusia. Shingga dengan hal itu murobbi dapat melancarkan jurus-jurus jitu dalam pembentukan muwashofat kader. Contohnya, ada mutarobbi yang senang membaca, ada yang senang menulis, ada yang senang berbicara, ada pula yang senang mengamati dan menganalisa, ada yang pintar dalam teknologi informasi, ada yang pintar berolahraga dan pandai membuat senam-senam atau hal-hal lain berkenaan dengan jasadiyah. Adapula yang senangnya ibadah layaknya seorang sufi dan lain sebagainya. Nah, dari kejelian seorang murobbi inilah segala potensi-potensi baik para mutarobi dapat dieksekusi dalam bentuk amal jama’i.

Sehingga dengan apa-apa yang dilakukan murobi, mutarobbi dapat saling mengisi dan melengkapi antara satu dengan yang lain dan hal ini berdampak luar biasa pada suatu jamaah. Tidak dinafikan masing-masing baik itu murobbi dan mutarobbinya memiliki hal-hal lain di luar sana, sehingga terkadang hal itu berpengaruh dalam halaqoh usroh tersebut. Tapi alangkah baiknya halaqoh tersebut dapat diposisikan oleh murobbi itu sendiri menjadi tempat yang menyenangkan dan muara bagi setiap masalah yang seporsi.

Itulah pentingnya halaqoh usroh, dari namanya usroh yang berarti keluarga, maka murobbi harus benar-benar mengarahkan halaqoh ini dengan sungguh-sungguh. Shingga nantinya juga para mutarobbinya mendapat inispirasi yang lebih luar biasa dalam menjalankan tugas sebagai seorang murobbi kelak. Faktor komunikasi juga amatlah penting, dan hendaknya murobbi juga sebagai orang yang selalu memilki teladan, kata-kata motivasi, dan lain-lain yang dapat diberikan kepada mutarobbinya secara berkelanjutan. Sehingga, diharapkan proses tarbiyah tidak hanya berjalan saat halaqoh saja. Tetapi proses tarbiyah berjalan di setiap saat setiap waktu.

.

Definisi As-Sunnah

As-Sunnah, menurut bahasa Arab, adalah ath-thariqah, yang berarti metode, kebiasaan, perjalanan hidup, atau perilaku, baik terpuji maupun tercela. Kata tersebut berasal dari kata as-sunan yang bersinonim dengan ath-thariq (berarti “jalan”). Dalam sebuah hadits disebutkan, “Barangsiapa melakukan sunnah yang baik dalam Islam, maka selain memperoleh pahala bagi dirinya, juga mendapat tambahan pahala dari orang yang mengamalkan sesudahnya, dengan tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka. Dan barang siapa melakukan sunnah yang jelek dalam Islam, maka selain memperoleh dosa bagi dirinya, juga mendapat tambahan dosa dari orang yang melakukan sesudahnya dengan tanpa mengurangi sedkitpun dosa mereka.” (HR Muslim).

Al-Qadli lyadl berkata bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda, “Sungguh kamu akan mengikuti sunnah-sunnah orang sebelum kamu.” Tulisan (Sin, Nun, Nun) dalam kalimat hadits tersebut (Arab) jika dibaca sananun berarti “jalan” atau “metode.” Adapun jika dibaca sununun atau sanunun keduanya merupakan bentuk jamak dari sunnah maka artinya “perjalanan hidup.”

Menurut lbnul Atsir, “Kata sunnah dengan segala variasinya disebutkan berulang-ulang dalam hadits, yang arti asalnya adalah “perjalanan hidup” dan “perilaku’.” (an-Nihayah 2: 409).

Adapun pengertian sunnah dalam istilah syara’, menurut para Ahli Hadits, adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam, yang berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, karakter, akhlak, ataupun perilaku, baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi nabi.

Dalam hal ini pengertian sunnah, menurut sebagian mereka, sama dengan hadits.

Menurut Ahli Ushul, “Sunnah ialah sesuatu yang dinukil dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam secara khusus. la tidak ada nashnya dalam Alquran, tetapi dinyatakan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan sekaligus merupakan penjelasan awal dari isi Alquran.” (asy-Syatibi, al-Muwafaqat 4: 47).

Adapun menurut Fuqaha (para ahli fikih, red), “Sunnah itu berarti ketetapan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam yang bukan fardhu dan bukan wajib.” (asy-Syaukani, lrsyadul Fuhul, him. 31)

Setelah timbulnya perpecahan dan menyebarnya berbagai bid’ah serta aliran pengikut nafsu, maka sunnah digunakan sebagai lambang pembeda antara Ahli Sunnah dan ahli bid’ah. Jika dikatakan si Fulan Ahli Sunnah atau mengikuti sunnah, maka ia adalah kebalikan dari ahli bid’ah. Disebutkan si Fulan itu “mengikuti sunnah” apabila ia beramal sesuai dengan yang diamalkan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam (aI-Muwafaqat 4:4)

Pengertian sunnah tersebut didasarkan atas dalil syar’i, baik yang terdapat dalam Alquran maupun berasal dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam, atau merupakan ijtihad para sahabat Radiyallahu ‘anhu seperti mengumpulkan mushhaf dan menyuruh orang-orang membaca Alquran dengan satu bahasa. serta membukukannya. (as-Sunnah, hlm. 48)

Adapun menurut ta’rif kebanyakan Ulama Hadits muta’akhirin, kata sunnah adalah ibarat (ungkapan) yang dapat menyelamatkan dari keragu-raguan tentang aqidah, khususnya dalam perkara iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir, takdir, dan masalah keutamaan para sahabat. Istilah sunnah menurut Ulama Hadits muta’akhirin tersebut lebih ditekankan pada aspek aqidah, sebab aspek ini dianggap begitu penting, termasuk bahaya penyelewengannya. Namun jika diperhatikan dengan seksama, lafazh ini lebih mengacu kepada pengertian jalan hidup Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya ra, baik ilmu, amal, akhlak, ataupun segi kehidupan lainnya.

Istilah sunnah menurut ulama Hadis mutaakhirin tersebut lebih ditekankan pada aspek akidah, sebab aspek ini dianggap begitu penting, termasuk bahaya penyelewengannya. Namun, jika diperhatikan dengan seksama, lafaz ini lebih mengacu kepada pengertian jalan hidup Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya ra, baik ilmu, amal, akhlak, ataupun segi kehidupan lainnya.

Untuk membahas ilmu ini, para ulama hadis menyusun beberapa tulisan yang dinamakan Kitab-kitab Sunnah. Mereka mengkhususkan ilmu ini dengan nama Sunnah, karena bahayanya besar (bila terjadi penyimpangan), sedangkan orang yang menentangnya berada di jurang kebinasaan. (lbnu Rajab)

Menurut lbnu Rajab, Sufyan ats-Tsauri mengatakan, “Perlakukanlah Ahli Sunnah dengan baik, karena mereka adalah orang-orang asing.” Yang dimaksud sunnah oleh imam-imam itu ialah perjalanan hidup Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya, yang bersih dari syubhat dan syahwat. Karena itu, al-Fudhail bin lyadh mengatakan, “Ahli Sunnah ialah orang yang terkenal hanya mau memakan makanan yang halal. Dan memakan makanan yang halal merupakan perilaku paling penting dalam Sunnah yang dilakukan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya Radiyallahu ‘anhu”

Definisi al-Jamaah

Menurut bahasa, kata jamaah berasal dan al-ijtima’ (”berkumpul” atau “bersatu”) yang lawan katanya al-firqah (”berpecah belah”). lbnuTaimiyah menjelaskan, “Al-Jamaah berarti persatuan, sedangkan lawan katanya adalah perpecahan. Dan lafazh al-jamaah telah menjadi nama bagi kaum yang bersatu.” (Majmu’ Fatawa 3:157)

Namun, jika lafazh jama’ah dirangkaikan dengan as-sunnah menjadi Ahli Sunnah Waljamaah maka yang dimaksud ialah pendahulu umat ini. Mereka adalah para sahabat dan tabi’in yang bersatu mengikuti kebenaran yang jelas dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wassalam. (Harras, Syarah al-Wasithiyyah, him. 16)

Demikianlah, apa yang dilakukan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnyaRadiyallahu ‘anhumenimpakan kebenaran yang wajib diteladani dan diikuti. Setiap orang yang datang sesudah mereka dengan menempuh jalan mereka dan mengikuti jejak mereka, maka dia itulah “al-Jamaah”, baik secara individu maupun kelompok.

Abu Syamah berkata, “Manakala datang perintah untuk beriltizam kepada jamaah, maka yang dimaksud iltizam di sini adalah komitmen terhadap kebenaran dan mengikutinya, sekalipun jumlah pengikut kebenaran itu lebih sedikit daripada penentangnya. Sebab, kebenaran itulah yang menjadi pijakan jama’ah generasi pertama dari Nabi Saw dan para sahabatnya Radiyallahu ‘anhum dengan tidak melihat banyaknya ahli kebatilan sesudah mereka.” (al-Ba’its hlm. 22)

Ketika Abdullah bin Mubarak, sahabat Rasulullah, ditanya tentang al-jama’ah, beliau menjawab, “Abu Bakar dan Umar.” Ketika dikatakan kepada beliau bahwa Abu Bakar dan Umar telah wafat, beliau menjawab, “Fulan dan Fulan.” Ketika dikatakan kepada beliau bahwa si Fulan dan Fulan telah wafat, beliau menjawab, “Abu hamzah as-Sukri adalah jama’ah (aI-Baghawi 1:205)

Istilah jamaah, menurut penafsiran lbnu Mubarak tersebut, adalah orang yang memiliki sifat-sifat teladan yang sempurna berdasarkan Alquran dan Sunnah Nabi. Karena itu, beliau membuat perumpamaan dengan orang-orang yang menjadi teladan. Maka, disebutlah nama ulama sejamannya, Abu Hamzah as-Sukri, dan bukan ulama lainnya. Alasan beliau, Abu Hamzah termasuk ahli ilmu yang memiliki keutamaan dan berlaku zuhud.

Sebagian ulama berbeda pendapat mengenai penjelasan hadis-hadis Nabi yang mewajibkan beriltizam (berpegang-teguh, red) kepada jamaah dan melarang keluar daripadanya.

Menurut pengamatan kami, hadits-hadits tersebut sama sekali tidak bertentangan. Namun, untuk melengkapi pembahasan ini, kami akan menyebutkan pendapat-pendapat tersebut sebagai berikut:

1.Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud al-jamaah ialah para sahabat saja, dan bukan orang-orang sesudah generasi mereka. Sebab, para sahabat itulah yang sesungguhnya telah menegakkan tonggak-tonggak ad-dien. dan menancapkan paku-pakunya. Dan mereka tidak berhimpun di atas kesesatan. (Lihat Asy-Syathibi, Al-l’thisham 2:262). Pendapat ini diriwayatkan dan Umar bin Abdul AzizRadiyallahu ‘anhu

Menurut pendapat ini, lafazh al-jamaah sesuai dengan riwayat lain dalam sebuah hadis Nabi: “…yakni jalan yang aku tempuh dan para sahabatku.” Kalimat hadits ini menunjuk kepada perkataan, perilaku, dan ijtihad mereka. Dengan demikian, lafazh tersebut menjadi hujjah secara nuitlak dengan kesaksian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam, khususnya dengan sabda beliau: “Hendaklah kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah para Khalifah ar-Rasyidin…”

2. Ada sementara ulama yang mengartikan al-jamaah itu adalah Ahli Ilmu, Ahli Fikih, dan Ahli Hadis dari kalangan Imam Mujtahidin. Sebab, Allah telah menjadikan mereka hujjah atas manusia dan mereka menjadi panutan dalam urusan ad-dien. (Filthul Bari 13:27). Pendapat ini dari al-Bukhari dalam kitabnya bab Wa Kazalika Jaalnakum Ummatan Wasathan (Demikian pula Kami jadikan kamu umat pertengahan) dan perintah Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam untuk beriltizam kepada al-jamaah beliau mengatakan bahwa mereka (al-jamaah) itu adalah Ahli llmu. (Fathul Bari 13:316)

Menurut Turmudzi, para ahli ilmu menafsirkan al-jamaah dengan ahli fikih, ahli ilmu, ahli hadis. Kemudian beliau membawakan riwayat dari lbnul Mubarak yang memberikan jawaban, “Abu Bakar dan Umar” sewaktu ia ditanya mengenai al-jamaah. (Sunan Turmudzi 4:465)

Ibnu Sinan berpendapat, “Mereka (al-jamaah) adalah Ahli ilmu dan orang-orang yang punya atsar. (Syaraf Ashhabul Hadits, hlm. 26-27). Berdasarkan pendapat ini, maka al-jamaah adalah Ahli Sunnah yang alim, arif, dan mujtahid. Maka tidaklah termasuk al-jamaah mereka yang ahli bid’ah dan orang-orang awam yang taklid. Sebab, mereka tidak bisa diteladani dan biasanya kaum -yang disebut terakhir ini- hanya mengikuti ulama.

3. Ada ulama yang mengatakan bahwa al-jamaah ialah jamaah Ahlul Islam yang bersepakat dalam masalah syara’. Mereka tidak lain adalah Ahli ljma yang senantiasa bersepakat dalam suatu masalah atau hukum, baik syara’ maupunaqidah. Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi yang artinya: “Umatku tidak bersepakat dalam kesesatan.” (al-I’tisham 2:263)

Ibnu Hajar mengomentari pendapat Bukhari yang mengatakan bahwa mereka (al-jama’ah) adalah Ahli ilmu, sebagai berikut: “Yang dimaksud al-jama’ah ialah Ahlul Hal wal ‘Aqdi, yakni mereka yang mempunyai keahlian menetapkan dan memutuskan suatu masalah pada setiap jaman.”

Adapun menurut al-Karmani, “Yang dimaksud perintah untuk beriltizam kepada jamaah ialah beriltizamnya seorang mukallaf dengan mengikuti kesepakatan para mujtahidin. Dan inilah yang dimaksud Bukhari bahwa ‘mereka adalah Ahli llmu’.” Ayat yang diterjemahkan Bukhari dijadikan hujjah oleh Ahli Ushul karena ijma’ adalah hujjah. Sebab, mereka (Ahli llmu) dinilai adil, sebagaimana firman Allah (Al-Baqarah 143); “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang adil….” Pernyataan ayat ini menunjukkan bahwa mereka terpelihara dari kesalahan mengenai apa yang telah mereka sepakati, baik perkataan maupun perbuatan. (Fathul Bari 13:316). Pendapat ini merujuk kepada pendapat kedua.

4. Ada ulama yang mengatakan, jama’ah adalah as-Sawadul A’zham (Kelompok Mayoritas). Dalam kitab An-Nihayah disebutkan; “Hendaklah kamu mengikuti as-Sawadul A’zham, yaitu mayoritas manusia yang bersepakat dalam mentaati penguasa dan menempuh jalan yang lurus. (An-Nihayah 2:419). Pendapat tersebut diriwayatkaA dari Abi Ghalib yang mengatakan, sesungguhnya as-Sawadul A’zham ialah orang-orang yang selamat dari perpecahan. Maka urusan agama yang mereka sepakati itulah kebenaran.

Barangsiapa menentang mereka, baik dalam masalah syari’at maupun keimanan, maka ia menentang kebenaran; dan kalau mati, ia mati jahiliah. (Al-I’tisham 2:260). Di antara orang lain yang berpendapat demikian ialah Abu Mas’ud al-Anshari dan lbnu Mas’udRadiyallahu ‘anhu Asy-Syathibi berkomentar, “Berdasarkan pendapat ini, maka yang temasuk al-jamaah ialah para mujtahid, ulama, dan ahli syariah yang mengamalkannya. Adapun orang-orang di luar mereka, maka termasuk ke dalam hukum mereka (di luar jamaah), sebab orang-orang tersebut mengikuti dan meneladani mereka. Maka setiap orang yang keluar dari jamaah mereka, berarti ia telah menyimpang dan menjadi tawanan setan. Yang termasuk kelompok ini ialah semua ahli bid’ah, karena mereka telah menentang para pendahulu umat ini. Sebab itu, mereka sama sekali tidak termasuk as-Sawadul A’zham.” (AI-l’tishaita 2:261)

5. Ada ulama yang mengatakan bahwa al-jamaah ialah jamaah kaum muslimin yang sepakat atas seorang amir (penguasa). Ini adalah pendapat ath-Thabari yang menyebutkan pendapat-pendapat terdahulu. Kemudian ia mengatakan, “Ya benar pengertian tentang beriltizam kepada jama’ah ialah taat dan bersepakat atas amirnya. Maka barang siapa melanggar bai’atnya, ia telah keluar dari al-jama’ah.” (Fathul Bari 13:37). Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah menyuruh umatnya agar beriltizam kepada pemimpinnya, dan melarang umat mengingkari kesepakatan tentang pemimpin yang lelah diangkatnya. (al-l’tisham 2:264).

Menurut Thabari, jika jama’ah itu telah sepakat dengan ridla untuk mengangkat seorang pemimpin, sedangkan orang yang menentangnya mati dalam keadaan jahiliah, maka itu al-jama’ah yang digambarkan Abu Mas’ud al-Anshari. Mereka adalah mayoritas dari ahli ilmu dan agama serta pengikutnya. Mereka itulah as-Sawadul A’zham, (al-I’tisham 2:264). Dengan demikian, al-jama’ah menurut pendapat ini- ialah kesepakatan atas pemimpin yang sesuai dengan Alquran dan Sunnah. Adapun kesepakatan yang memyalahi Sunnah berarti telah keluar dari makna al-jamaah yang disebutkan dalam hadis-hadis Rasul. (al-I’tisham 2:2(”5).

Itulah pendapat-pendapat penting mengenai makna aljamaah sehingga kita diperintahkan untuk beriltizam kepadanya. Dari pendapat-pendapat tersebut, akhirnya kita dapat menarik dua kesimpulan:

1. Ia disebut jama’ah apabila bersepakat dalam hal memilih dan mentaati seorang pemimpin yang sesuai dengan ketentuan syara’. Kita wajib berijtizam kepadanya dan haram keluar daripadanya.

2. Jama’ah adalah jalan yang ditempuh oleh Ahli Sunnah yang meninggalkan segala macam bid’ah. inilah yang disebut madzbab al-haq. Pengertian jama’ah di sini merujuk kepada para sahabat Nabi, ahli Ilmu, ahli ijma’, atau as-Sawadul A’zham.

Semua itu kembali kepada satu makna, yaitu: “Orang yang mengikuti jalan hidup Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya Radiyallahu ‘anhu, baik sedikit maupun banyak, sesuai dengan keadaan umat serta perbedaan jaman dan tempat.”

Karena itu, Ibnu Mas’ud berkata: “Al-Jama’ah ialah Orang yang menyesuaikan diri dengan kebenaran walaupun engkau seorang diri.” (Abu Syamah, al-Hawadits wal Bida’, him. 22, Abu Syamah menyebutkan bahwa pcrkataan ini juga diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam al-Madkhal)

Dalam lafazh lain disebutkan: “Sesungguhnya al-jamaah itu ialah menaati Allah, walaupun engkau seorang diri.” (al-Lalaka’i. Syarhus-Sunnah 1:108-109).

(Dikutip dari Ahlus Sunnah wal Jamaah Ma’alimul Inthilaqah al-Kubra, Muhammad Abdul Hadi al-Mishri)

Agar Dapat Menikmati Islam

1. Agama Islam ini adalah agama yang sempurna. Istilahnya kamil. Di dalam agama ini terdapat berbagai penjelasan dan jalan hidup dalam berbagai sisi kehidupan, baik kehidupan ritual, seremonial, pergaulan, sosial, ekonomi, politik, budaya, keamanan dan sisi-sisi kehidupan lainnya. Tidak ada satu pun sisi kehidupan kecuali agama ini menjelaskan mana yang baik dan membawa manfaat dan mana yang buruk yang mendatangkan mara bahaya.

2. Agama Islam ini adalah kenikmatan yang Allah Swt. berikan kepada kita secara lengkap. Istilahnya tamam. Terkait dengan Islam adalah nikmat, Rasulullah Saw. mengajarkan kepada kita agar selesai makan, atau minum, kita mengucapkan doa, “Al-hamdulillah al-ladzii ath’amana wa saqana waja’alana Muslimin” (segala puji milik Allah Swt. yang telah memberikan makan dan minum kepada kami, dan menjadikan kami orang-orang Islam). Dalam doa yang diajarkan Rasulullah Saw. kepada kita ini ada satu hal yang menarik, yaitu Beliau Saw. merangkaikan kenikmatan makan dan minum dengan kenikmatan kita sebagai orang Islam. Hal ini menegaskan kepada kita bahwa agama Islam dan ber-Islam adalah sebuah kenikmatan.

Mungkin ada sebagian kita yang bertanya, “Kenapa selama ini kita kok tidak atau kurang begitu merasakan Islam sebagai kenikmatan?” Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa melihat kasus tidak bisa merasakan nikmatanya makan dan minum, yang memang oleh Rasulullah Saw. dirangkaikan dengan kenikmatan Islam dan ber-Islam.

Paling tidak ada dua penyebab, kenapa kita tidak atau kurang merasakan nikmat Islam atau ber-Islam sebagaimana kita tidak atau kurang merasakan nikmat makanan dan minuman.

Pertama, mungkin karena lemahnya pemahaman kita terhadap Islam,. Karena ketidaktahuan kita, makanan yang sebenarnya lezat, nikmat dan bergizi, tidak mau kita konsumsi. Sepeti anak kecil, untuk mengkonsumsi makanan bergizi, kita harus menyuapinya, dan bahkan mengejar-ngejarnya. Setelah dia dewasa, dan paham, dialah yang gantian mengejar-ngejar kita untuk memenuhi permintaannya. Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan pengetahuan, wawasan dan pemahaman kita terhadap agama kita, agar bisa merasakan nikmat Islam dan ber-Islam.

Kedua, atau mungkin karena adanya penyakit dalam diri kita, sariawan misalnya. Sehingga, makanan yang lezat dan enak itu menjadi tidak nikmat dan tidak lezat. Oleh karena itu, marilah kita bersihkan diri kita dari berbagai penyakit hati dan jiwa, agar kita bisa menikmati Islam dan ber-Islam.

3. Agama Islam adalah agama yang diterima dan diridhai Allah Swt. Istilahnya, agama yang mardhiy. Hal ini sejalan dengan firman Allah swt pada ayat lain dari Al Qur’an, yaitu,

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah Swt. hanyalah Islam” ( Ali Imran: 19).

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS Al Maidah: 85)

Itulah satu sisi gambaran tentang Islam, dan masih banyak lagi gambaran-gambaran lainnya, baik yang ada dalam Al-Qur’an maupun yang ada dalam hadits Rasulullah Saw., ataupun dalam kehidupan para sahabat Nabi Saw., generasi yang pertama-tama menerapkan dan mempraktekkan Islam dan ber-Islam dalam kehidupan mereka, semoga Allah Swt. senantiasa memberikan bimbingan kepada kita untuk terus meningkatkan wawasan dan pemahaman kita, dan semoga kita tidak meninggal kecuali dalam keadaan muslim, amin. Wallahu a’lam bishshawab.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.